Pengikut

Sabtu, 23 Mac 2013

JANGAN BERASA DIRIMU BETUL

  dihormati adalah normal, keinginan dihargai adalah normal, keinginan dimuliakan juga normal, namun menjadi tidak normal jika kita diperbudak oleh keinginan dihormati, keinginan dipuji dengan perbuatan riak.

Dan lebih buruk lagi keinginan itu membuat kita menjadi sombong, merasa lebih mendustakan kebenaran. Padahal ada jalan untuk menjadi mulia dan jalan inilah yang harus kita tempuh…

Rasulullah saw bersabda :
“Man tawādho’a rafa’allahu, waman takabbarā wdhawa’allahu”
Barang siapa yang rendah diri/ hati, maka Allah akan memuliakannya
Dan barang siapa yang sombong/besar diri, maka Allah akan menghinakannya .

Ahli kitab berkata:
“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan, sebab segala sesuatu yang tumbuh tetapi tidak ditanam , maka tidak sempurna hasil buahnya”

Pohon yang akarnya mencengkam ketanah akan kukuh, ditiup angin, dihempas taufan, diterjang badai tetap kukuh.

Tetapi pohon yang akarnya tidak mencengkam ketanah disiram air akan goyah, dihempas angin rusak, diterjang badai hancur.. apalah ertinya.
Kalau ingin menjadi pribadi yang kukuh, maka kuncinya tanamlah diri ini di bumi kerendahan hati, bukan rendah diri.. tapi rendah hati.
makin rendah hati makin dimuliakan, makin tinggi hati semakin dihinakan..
Oleh karena itu, jalan menuju kemuliaan, jalan menuju orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah, kuncinya adalah menjadi orang-orang yang tawadduk, orang-orang yang sentiasa rendah hati..

Kesombongan, ketakaburan adalah jalan paling pintas yang menghinakan diri kita, kerendahan hati itulah jalan yang utama yang membuat kita akan mulia dunia dan insya Allah akhirat kelak.

-Jadi kelebihan yang membuat sombong itu menjadi sebuah kekurangan besar-
kita diberikan kelebihan rezeki kemudian kita menjadi takabur itu juga menjadi kekurangan.

Kita dinaikan kedudukan oleh Allah lantas menjadi petangtang-petengteng  maka menjadi kekurangan..
maka setiap kenaikan sesuatu ilmu, kedudukan, penampilah, jabatan atau ibadah selalu berjuang untuk tawadduk. Karena peluang itu ada maka jika tidaka dilatih jatuh kita menjadi hina.

Rendah hati atau rendah diri?
Kalau rendah hati adalah ciri hati yang sihat, karena dia berhasil mengendalikan dirinya untuk tidak sombong, karena itu penyakit hati.

Rendah diri adalah penyakit, namanya penyakit tidak habis… orang yang rendah diri itu dia kufur nikmat, bahasa kasarnya. Karena dia lebih melihat kekurangan yang ada pada dirinya dari pada nikmat Allah yang melimpah. Misalkan tangan agak bengkok sebelah, padahal sekujur tubuh sihat, akal sihat.. tetapi dia sibuk saja melihat dan memikirkan tangan yang bengkok, sehingga dia malu kemana-mana hanya karena sebuah kecacatan. Dia tidak mensyukuri nikmat yang besar hanya karena sesuatu yang dianggap musibah. Padahal bisa jadi tangan yang bengkok itu perlindungan dari Allah supaya dia lebih dekat dan memohon kepada Allah, atau boleh jadi Allah memberikan cacat karena Allah akan memberikan pahala besar kesabaran dan Allah menjadikan kekurangan cacatnya itu untuk menggerakan orang-orang yang sihat.

Maka orang yang rendah hati adalah hati yang sihat buah dari kemampuan mengendalikan diri untuk tidak sombong, sedangkan orang yang rendah diri adalah orang yang berpenyakit hati, karena dia tidak mensyukuri nikmat yang besar hanya mengfokus pada kekurangan yang kecil.

biar sekali, maka jangan sampai rendah diri, tapi rendah hati.
Kita harus hati-hati dalam menilai orang lain sombong, Karena siapa tahu ketika dalam menilai orang lain sombong, yang pertama jangan sampai kita mengangap orang itu sombong karena terluka olehnya..

“Ah.. orang itu sombong gila, kita mengucapkan salam dia tidak mahu jawab…”
Padahal dia tidak berniat sombong hanya kurang mendengar.. mungkin dia sedang berfikir tentang anaknya yang sakit, mungkin sedang agau..

Pertama kita harus mencari 1001 alasan untuk tidak bersangka buruk, tapi betul kalau dalam kenyataannya dia sombong, menunjuk sebenarnya, bersikap munafik, tidak mahu mendapatkan  nasihat,. dia ingin selalu menang sendiri. Maka kalau kita rendah hati, kemudian dia menjadi munafik. kita harus bantu orang itu supaya tahu bahwa kesombongannya itu jelek.
Menurut Imam Ali, rendah hati kepada orang yang sombong ini tidak benar.
Jadi sombong dalam tanda kutip kepada orang yang sombong ini sebagian dari amal ma’ruf nahi munkar..

“saudara sebaiknya tidak usah pamerkan begitu.. ada teman kami yang punya kereta lebih bagus juga tetap rendah hati..”

“saudara mungkin kalau saudara lebih rendah hati akan lebih utama, karena saudara itu tidak menunjuk mcm saudara.”

-Nah kita mengucapkan sesuatu yang lebih tinggi supaya orangnya sampai tidak sombong-

Tetapi yang paling penting adalah jangan sampai kita melihat orang sombong dan pada saat yang sama kita juga menjadi sombong.

Apakah caranya supaya tawadduk??.. ingat nabi Muhammad adalah puncak kejayaan,.

*Caranya pertama adalah jangan melihat orang lain lebih rendah dari kita..
ini adalah latihan
-          Lihat anak-anak.. siapa tahu anak ini masih sedikit dosanya, dari pada saya..
-          Lihat orang tua.. oh orang tua ini lebih banyak pahalanya karena sudah lebih lama beramalnya..
-          Lihat yang tergelincir berbuat dosa, siapa tahu dia berbuat dosa karena belum tahu ilmunya.. berbeza dengan kita
-          Lihat orang miskin, dia tidak banyak sedekah.. karena tidak ada dan lamal buat kita..
Pendek kata melatih diri kita agar tidak menganggap orang lain lebih rendah dari kita.

*Dan yang kedua, kita harus cuba bagaimana menyikapi orang lain dengan sikap memuliakan
Cara menunjuk… Muhammad menunjuk tidak pernah menjuk dengan telunjuk, tetapi dengan tangan terbuka, Nabi Muhammad ke mesjid tidak dapat tempat, beliau duduk dimana saja tidak ingin diutamakan.

Nabi Muhammad mengerjakan pekerjaan rumah sendiri,…
Latih untuk berterima kasih, latih jika menyuruh dengan mengucapkan “ tolong,,, maaf,,, terima kasih,,, dibantu oleh pembantu, terimakasih.. dibantu oleh pedagang yang sederhana terima kasih… latihan untuk tetap berterima kasih.
Orang sombong sulit berterima kasih, kalau mahu suruh suruhlah dengan cara yang paling sopan, yang membuat orang terlihat tidak lebih rendah dari kita.
Kalau menolak, menolaklah dengan cara yang lebih santun sehingga kita tidak melukai hatinya..

Latih mengerjakan pekerjaan yang kita anggap rendah, dan bergaul dengan orang yang rendah hati.. sedikit saja kita sombong akan terasa..

Orang-orang yang rendah hati, tawadho itu indah sekali, sejuk.. menyenangkan sekali akhlaknya. Tapi orang yang takabur, sombong… petangtang-petenteng sok kaya, sok hebat, sok keren, sok berkuasa.. dia menyebalkan dihati kita. Berarti kalau kita berperilaku sama kitapun menyebalkan dihati orang lain.

Melihat disekitar kita menjadi pelajaran.. kalau kita tidak suka terhadap orang sombong jawabannya satu, kita jangan meniru perilaku sombong.
Rendah hati yang diangkat derajat oleh Allah adalah yang ikhlas, bukan karena ingin disebut rendah hati, tetapi agar diterima oleh Allah SAW..

Apakah rendah diri selalu jelek??
Yang jelek itu rendah diri dihadapan manusia, tetapi rendah diri dihadapan Allah adalah sah dan harus..dihadapan manusia rendah hati. Rendah diri dihadapan manusia itu penyakit hati.

Ahli hikmah berkata:
“maksiat dosa yang menimbulkan rasa rendah diri dan membutuhkan rahmat Allah, lebih baik dari perbuatan ta’at yang membangkitkan rasa sombong, ujub dan besar diri”

Abu Madian ra. Berkata:
“perasaan rendah diri seorang yang telah berbuat maksiat dan dosa itu lebih baik, dari kesombongan seorang yang ta’at”

Tentu saja Huraian ini bukan menganggap remeh dosa, tetapi apalah artinya kita ta’at yang membuat kita melakukan dosa besar, yaitu sombong.. kita sholat, kita bisa ngaji tetapi sholat dan ngajinya membuat ujub, berarti solat dan ngajinya kurang betul, karena solat yang baik adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar.

Kalau dengan amal kita menjadi sombong berarti amalnya seperti amal akhirat, tetapi tujuannya dunia, yaitu pujian dan penghargaan dari mahluk.

Ada yang berbuat dosa tetapi dengan dosanya itu dia benar-benar terpuruk takut sekali, dia tobat dengan tobat yang sunguh-sunguh sehingga dapat mengahapuskan dosa-dosa yang dilakukannya. Inilah orang yang tergelincir, kemudian menyikapi tergelincirnya itu dengan takut, rendah merasa nista dihadapan Allah, dan ini akan membuat ampunan Allah bisa jadi mengangkat derajat dia, itulah sebabnya jngan meremehkan orang-orang yang berdosa kemudian tobat. Karena siapa tahu tobat dia membuat dia lebih tinggi derajatnya dari pada kita yang merasa hebat dengan banyak mal shaleh…Mungkin kita tidak pernah tinggal serumah, tidak pernah tinggal setiap saat.. kita tidak pernah tahu amalnya, mungkin dalam pandangan kita dia banyak kekurangannya, tapi mungkin kita tidak tahu shsdekahnya mungkin berapa banyak, tobatnya berapa mendalam.. kita tidak tahu kekhusyuan shalatnya.

Berhentilah melihat orang lain hanya karena kita merasa lebih mempunyai kedudukan, kaya, pangkat duniawi atau karena ilmunya.. karena merendahkan orang lain tidak akan menolong perubahan apapun, bahkan menjerumuskan kita dalam kesombongan.. justru sikapi kekurangan orang lain sebagai ladang amal bagi kita, ladang untuk memaafkan, ladang amal untuk kita bantu orang bisa mengetahui kekurangannya, ladang amal untuk kita bantu dia memperbaiki kekurangannya.. paling tidak do’a yang kita panjatkan.. kekurangan orang lain bukan untuk kita menjadi sombong melainkan ladang amal untuk kita.. inilah yang diharapkan yang insya Allah akan mulia dengan kelebihannya, yaitu ketika dia menjadi rendah hati dihadapan manusia dan semakin merasa rendah dirinya dihadapan Allah SAW…

Penyakit sombong adalah paling minimal.. denagn ciri mendustakan kebenaran dan menganggap rendah orang lain. Jadi sombong itu bisa kena ke orang miskin bisa kena juga ke orang kaya, bisa kena keorang berpangkat, bisa juga kena ke orang yang tidak berpangkat. Orang sombong ciri khasnya adalah tidak suka terhadap kebenaran, tidak suka mendengar nasehat, tidak suka mendengar ilmu tentang agama. Semakin tinggi ketakaburannya maka ia semakin mendustakan kebenaran dan melawan kebenaran itu sendiri.

 Nabi Muhammad tidak termasuk idolanya, “ah kan Nabi hidup di zaman dulu, ah Nabikan.. Ah Nabi itu juga kan..” ya begitu saja ucapanynya seakan-akan nabi itu bukan teladan saat ini. Orang yang sombong tidak mahu merujuk Nabi kita, padahal Rasul adalah uswatun hasanah,

Bolehkah dia solat?? Dia solat, dia shaum, dia zakat, dia haji, dia umrah.. itu sudah baik, tetapi jika sombongnya bertambah parah tidak mahu kalah, cenderung ingin menang sendiri. Selain menolak diserang orang yang suka komen ,selalu menunjukan dialah yang paling benar, dialah yang paling tahu, dia yang paling penting…

“Tidak akan masuk syurga barang siapa yang dalam hatinya terdapat kesombongan, ketakaburan walau sebesar zarah (ukuran yang sangat kecil)”

-Semoga Allah mengampuni kosombongan dan berbagai kesalahan kami…-

1 ulasan: